Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Jumat, 02 Desember 2011

Luruskanlah Jalan Bagi Tuhan

 Hari Minggu Adven II
oleh: P. Paulus Tongli,Pr
Inspirasi Bacaan:
Mrk 1:1-8; Yes 40:1-5.9-11; 2Pet 3:8-14.
 
Ajakan untuk bergembira
Gereja mengajak kita hari-hari ini untuk bergabung di dalam kegembiraan bersama dengan seluruh gereja. Tentu hal ini merupakan suatu seruan atau permohonan yang menarik untuk kita semua. Kita semua ingin bergembira. Bukankah manusia itu diciptakan untuk bergembira? Dan bukankah hasrat untuk bergembira itu menjadi lebih besar saat ini, ketika kita melihat dan mendengar begitu banyak kesulitan, kesedihan serta penderitaan di sekitar kita? Meskipun demikian tampaknya gereja harus bergembira sendiri, karena kegembiraan yang ditawarkannya begitu sulit untuk ditangkap dan dipahami.
Gambaran akan kegembiraan
Kegembiraan seperti apa yang ditawarkan gereja? Gereja mengungkapkan alasan mengapa ia bergembira: Tuhan sudah dekat. Tuhan tidak melupakan umatnya yang tenggelam di dalam penderitaannya. Ia telah mengutus puteraNya ke bumi ini untuk mematahkan belenggu dosa dan untuk membebaskan kita. Hal inilah yang ingin dibawa oleh gereja kembali kepada kita pada saat natal. Gereja merayakan hari kelahiran Kristus setiap tahunnya sebagai hari yang penuh kegembiraan. Itulah hari raya agung untuk seluruh dunia. Apakah kita tidak bergembira akan hari itu? Betapa bahagianya para gembala ketika mereka mendengar pewartaan para malaikat bahwa Penyelamat telah lahir, betapa gembiranya para majus dari Timur ketika mereka menemukan bayi itu bersama dengan ibunya. Bahagia dan gembira karena Kristus telah lahir.
Tetapi kita pun mengetahui bahwa kini begitu banyak hal di sekitar kita yang membuat kita tidak bisa bergembira dan berbahagia. Ketika dunia menyadari akan penyelamatnya, pada saat yang sama dunia menganiaya Sang Penyelamat itu, dan akhirnya menyalibkan dia. Kita tahu bahwa dunia telah menolak Kristus di dalam diri para martir. Kita pun harus mengalami nasib pendiritaan yang sama, karena Kristus telah meramalkannya untuk kita: “…Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu”
Apakah dengan itu kita masih dapat bergembira? Dapatkah kita bergembira ketika kita mengingat saudara-saudara kita di China dan di sejumlah negara lain yang harus menderita tekanan karena mereka percaya kepada Kristus? Dapatkah kita bergembira setiap kali kita menyaksikan orang yang kehilangan rumah dan kampung halamannya karena perang atau karena bencana seperti di Sidoarjo? Bila mereka ini berbicara tentang kegembiraan dan hal-hal yang penting untuk kegembiraan, mereka akan berbicara tentang saat-saat kedamaian dan ketenteraman. Hanya di dalam kedamaian orang dapat bergembira. Bilamana musuh tidak lagi mengancam hidup manusia, pada saat itulah orang dapat menikmati hidupnya. Bagaimana mungkin orang dapat bergembira bila hidupnya senantiasa di dalam kegelisahan? 

Kegembiraan dunia selalu juga dihubungkan dengan kenyamanan. Kemiskinan bagi banyak orang adalah sesuatu yang tidak dapat dipersatukan dengan kegembiraan. Orang kaya adalah orang yang beruntung, karena mereka dapat menikmati semua jenis kenyamanan, sementara orang miskin tidak memiliki akses kepada semua kenyamanan itu. Itulah konsep kegembiraan yang dibawa oleh dunia kepada kita. Gambaran kegembiraan yang dimaksudkan oleh gereja adalah sama sekali lain. Allah kita memberkati mereka yang dihina dan dianiaya. Ia bersabda: Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga” (Mat 5:12). Ketika St. Ignatius dari Antiokia dibawa sebagai tawanan ke Roma untuk menjalani hukuman, yakni dimasukkan ke dalam gelanggang di mana sebelumnya singa-singa lapar sudah dilepaskan, ia menulis suratnya kepada orang di Efesus: “Saya dipenuhi oleh kegembiraan karena saya akan dengan segera bersama dengan Kristus”.  Kegembiraan seperti apa yang dirasakan olehnya? Bukankah situasi yang dialaminya mengerikan setiap orang? 

Kemiskinan juga bukanlah rintangan bagi kegembiraan yang ditawarkan oleh gereja. Bukankah para malaikat diutus pertama-tama kepada para gembala, orang-orang miskin, untuk memberitakan kegembiraan besar? Gereja tidak menganggap kemiskinan dan perang sebagai yang bertentangan dengan kegembiraan. 

Kegembiraan dan harapan
Kegembiraan yang dimaksudkan gereja adalah kegembiraan yang datang dari harapan. Dan hanya harapanlah yang dapat membawa kegembiraan yang sejati. Orang Kristen berharap dan karena itu berbahagia. Sesungguhnya harapan inilah yang menjadi tanda yang membedakan seorang Kristen dari orang kafir. St. Paulus dalam suratnya kepada orang Tesalonika menyebut orang kafir sebagai orang yang tidak mempunyai pengharapan (bdk. 1 Tes 4:13).
Apakah pengharapan itu? Apakah itu sekedar hiburan murah bagi orang-orang Kristen agar dapat bertahan di dunia yang menolak guru mereka? Pengharapan lebih daripada sekedar hiburan murah. Pengharapan Kristiani bukanlah suatu pelarian bagi orang-orang Kristen yang tidak tahan menghadapi dunia yang suram ini. Pengharapan kristiani tidak menipu atau mengecewakan (bdk Rom 5:5). Pengharapan kristiani memberikan kepada kita keyakinan yang mendalam bahwa kita tidaklah sendirian, tetapi bahwa Allah selalu dekat dengan kita. Harapan yang demikian memberikan kegembiraan, kegembiraan yang muncul dari pengetahuan bahwa pemenuhan seluruh hasrat kita sedang menunggu kita. “Seperti ada tertulis: ‘Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.’” (1 Kor 2:9) Kegembiraan kristiani berdasar atas janji-janji ini. Bagi orang Kristen, kegembiraan yang akan datang merupakan suatu realitas yang menentukan keseluruhan sikap dan pandangannya akan hidup. Alasan-alasan mengapa begitu banyak orang katolik tidak merasakan kebahagiaan, karena mereka tidak cukup sering memikirkan kebenaran ini: suatu saat kita akan bersama-sama dengan Allah. Mereka terlalu banyak memusatkan pikiran dan hasrat pada hal-hal dunia, dan mengganti harapannya dengan hal-hal dunia itu. Padahal hal-hal dunia ini hanyalah alat atau sarana, dan bukan tujuan seperti tertulis dalam kitab Ibrani: “Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibr. 13:14).

    Kegembiraan yang berdasarkan harapan inilah yang hendaknya kita renungkan dalam masa menjelang natal ini. Inilah kegembiraan yang tidak akan pernah dapat diambil dari diri kita. Bila kita memikirkan hal itu, kita pastilah orang yang berbahagia. Marilah kita berdaya upaya, agar kita dapat menjadi orang yang sungguh dipenuhi kegembiraan karena kita memiliki harapan. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (Flp. 4:4-5). Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar